Pusat Bimtek

Bimtek Pendekatan Outcome-Based Procurement untuk Peningkatan Nilai Manfaat Pengadaan

Dalam dunia pengadaan barang dan jasa — khususnya di lembaga pemerintah maupun badan usaha milik negara — muncul kebutuhan kuat untuk tidak hanya membeli barang/jasa, tetapi menghasilkan manfaat nyata dan terukur melalui pengadaan tersebut. Salah satu pendekatan yang makin mendapat perhatian adalah pendekatan Outcome‑Based Procurement (OBP). Artikel ini bertujuan menjadi panduan lengkap sebagai pillar content untuk pelatihan (bimtek) dan penerapan OBP, dengan struktur yang edukatif, profesional, dan mudah dipahami.


Pengertian dan Konsep Dasar Outcome-Based Procurement

Apa itu Outcome-Based Procurement?

Outcome-Based Procurement adalah pendekatan pengadaan yang fokus pada hasil / outcome yang diinginkan daripada sekadar spesifikasi barang/jasa atau bagaimana proses harus dijalankan. Dalam model ini, instansi pengadaan mendefinisikan masalah, perubahan yang dikehendaki, dan indikator hasil (KPI), kemudian pasar (penyedia) diberi fleksibilitas untuk menawarkan solusi yang inovatif. Singapore Government Developer Portal+2communityfirst.numo.global+2

Misalnya, alih-alih mengatakan “kami butuh 100 unit komputer tipe A dengan spesifikasi X, Y, Z”, instansi bisa mengatakan “kami ingin agar produktivitas pengguna meningkat 20% dalam 12 bulan, dengan waktu gangguan ≤ 2% per bulan, dan solusi yang mendukung kolaborasi digital”. Maka penyedia bisa menawarkan solusi terbaik mereka — bisa berupa perangkat keras + layanan cloud + pelatihan.

Perbedaan dengan Pengadaan Tradisional

Aspek Pengadaan Tradisional (Input / Spesifikasi) Outcome-Based Procurement
Fokus Barang/jasa dengan spesifikasi teknis Hasil atau manfaat yang harus dicapai
Kebebasan penyedia Lebih terbatas — harus mengikuti spesifikasi Lebih fleksibel — penyedia bebas mengusulkan cara
Risiko Risiko bagi pengadaan apabila barang tidak sesuai spesifikasi Risiko lebih bersama — penyedia bertanggung hasil, pengadaan fokus hasil
Inovasi Kurang mendorong inovasi karena spesifikasi terlalu mendetail Mendorong solusi inovatif dari pasar hpw.qld.gov.au+1

Manfaat utama OBP

Beberapa manfaat utama yang dapat diperoleh dengan pendekatan OBP antara lain:

  • Efisiensi biaya lebih besar melalui solusi inovatif. bloom.services+1

  • Peningkatan kualitas layanan atau barang karena fokus pada hasil yang diukur. hpw.qld.gov.au

  • Lebih banyak kesempatan bagi penyedia untuk berkompetisi dengan ide-baru. communityfirst.numo.global

  • Pengalihan sebagian risiko kepada penyedia yang bersedia bertanggung hasil.

Kapan penerapan OBP cocok?

OBP sangat cocok ketika:

  • Masalah yang dihadapi bisa didefinisikan sebagai hasil yang diinginkan.

  • Terdapat ruang untuk inovasi dari penyedia.

  • Pasar penyedia mempunyai kapasitas untuk menawarkan solusi alternatif (bukan hanya satu vendor lama).

  • Instansi pengadaan siap mengukur hasil dan memonitor KPI. hpw.qld.gov.au
    Namun, pendekatan ini tidak cocok jika spesifikasi teknis sangat kaku, pasar terbatas, atau risiko kegagalan sangat tinggi (misalnya produk kritis yang tidak bisa gagal).


Bimtek pendekatan Outcome-Based Procurement untuk peningkatan nilai manfaat pengadaan — pelatihan komprehensif untuk mengoptimalkan pengadaan berbasis hasil.


Mengapa Bimtek untuk Outcome-Based Procurement Penting?

Tantangan pengadaan berbasis hasil di Indonesia

Di Indonesia, banyak pengadaan masih berfokus pada pemenuhan spesifikasi teknis dan prosedur administratif—mengabaikan aspek manfaat jangka panjang atau hasil nyata yang ingin dicapai. Akibatnya:

  • Pengadaan selesai tetapi manfaat kurang optimal.

  • Pengadaan ulang cepat karena kegagalan mencapai outcome.

  • Kurang terdorongnya inovasi dan persaingan pasar penyedia.

  • Risiko pemborosan anggaran dan ketidak­jelasan hasil.

Peran bimtek dalam memperkuat kapabilitas

Pelatihan atau bimtek (bimbingan teknis) yang fokus pada OBP memberikan manfaat berikut:

  • Meningkatkan pemahaman pengadaan tentang definisi hasil, KPI, dan bagaimana merancang tender berbasis outcome.

  • Melengkapi kapasitas teknis, legal, manajemen kontrak agar siap menerapkan OBP.

  • Membantu membangun kerangka mindset pengadaan dari “mengada barang/jasa” ke “menghasilkan manfaat”.

  • Memberi kesempatan simulasi, studi kasus, dan best practice sehingga instansi lebih siap.

Posisi konten ini sebagai pilar

Sebagai artikel pilar, konten ini akan menjadi “pangkal” atau fondasi agar institusi penyelenggara bimtek pengadaan dapat mengaitkan seluruh topik turunan (materi modul, studi kasus, panduan praktis) ke dalam “kerangka besar” OBP. Artikel ini lengkap, komprehensif, dan dapat dirujuk oleh peserta, pemangku kebijakan, dan penyedia jasa.


Tahapan Perencanaan dan Pelaksanaan Outcome-Based Procurement

Berikut adalah langkah-langkah utama yang harus dipahami oleh instansi pengadaan untuk menerapkan OBP dengan benar.

1. Persiapan dan Analisis Awal

a) Identifikasi hasil yang diinginkan

Identifikasi secara jelas apa yang ingin dicapai melalui pengadaan. Hasil ini harus:

  • Terukur (measurable)

  • Relevan dengan tujuan strategis instansi

  • Realistis namun menantang

  • Terdokumentasi dengan baseline kondisi saat ini
    Contoh: “Mengurangi waktu pemrosesan permohonan layanan publik dari rata-rata 10 hari menjadi ≤ 5 hari dalam 12 bulan”.

b) Analisis kesiapan instansi

Instansi harus mengecek:

  • Apakah proses pengadaan cukup fleksibel?

  • Apakah tersedia data baseline dan sistem monitoring?

  • Apakah tim pengadaan dan manajemen kontrak memiliki kompetensi?

  • Apakah pasar penyedia siap menawarkan solusi inovatif?
    Dokumen dari Queensland Department of Housing and Public Works menyebutkan bahwa kesiapan instansi sangat penting. hpw.qld.gov.au+1
    Jika kesiapan rendah, disarankan melakukan penguatan internal dahulu dan pilot kecil sebelum skala besar.

2. Perancangan Spesifikasi Berbasis Hasil

Daripada mendefinisikan “apa yang harus dilakukan”, instansi merumuskan “apa hasil yang harus dicapai”. Beberapa tips:

  • Tuliskan outcome kecil yang spesifik dan indikatornya (KPI)

  • Hindari spesifikasi terlalu teknis yang membatasi inovasi penyedia Ontario Centre of Innovation+1

  • Libatkan pasar melalui early market engagement atau RFI agar mengetahui kapabilitas penyedia hpw.qld.gov.au

  • Tentukan klausul kontrak yang mengaitkan pembayaran dengan pencapaian KPI/hasil.

3. Proses Tender dan Evaluasi

Pada tahap ini instansi perlu:

  • Membuka tender dengan dokumen yang jelas: fokus pada outcome, KPI, skema pembayaran dan insentif/penalti.

  • Memastikan kriteria evaluasi tidak hanya harga tetapi juga kemampuan penyedia menghadirkan solusi inovatif dan terukur. Singapore Government Developer Portal+1

  • Menyusun mekanisme evaluasi yang dapat membandingkan berbagai jenis solusi (karena penyedia mungkin menawarkan pendekatan berbeda). hpw.qld.gov.au

  • Menerapkan sistem pembayaran atau bonus yang tergantung pencapaian hasil, bukan hanya input.

4. Manajemen Kontrak dan Pemantauan Hasil

Setelah kontrak diberikan:

  • Pantau pelaksanaan terhadap KPI/outcome secara berkala.

  • Gunakan dashboard atau sistem pelaporan untuk transparansi.

  • Pastikan ada mekanisme perbaikan jika hasil belum tercapai.

  • Ulas hasil di akhir periode kontrak: apakah outcome tercapai, apakah manfaat muncul.
    Model manajemen yang baik memperkuat nilai manfaat pengadaan.

5. Evaluasi dan Pembelajaran

  • Setelah proyek selesai, lakukan evaluasi hasil: apakah outcome yang diharapkan tercapai?

  • Dokumentasikan pembelajaran: apa yang berhasil, hambatan apa muncul, bagaimana memperbaiki ke depan.

  • Gunakan hasil sebagai input untuk pengadaan-selanjutnya agar semakin efisien dan berdaya guna.


Contoh Kasus Nyata: Penerapan Outcome-Based Procurement

Kasus: Pemerintah Kota Wichita, AS

Contoh dari toolkit Open Contracting Partnership: Kota Wichita di Kansas mengalami masalah: biaya kontrak pemeliharaan taman naik 30% dan kualitas menurun. Kemudian kota tersebut menerapkan tender berbasis hasil: mereka menetapkan indikator seperti tinggi rumput, jumlah gulma, kerusakan properti. Mereka mengganti hukuman keterlambatan dengan bonus kinerja 5% dan meminta penyedia mengunggah foto hasil pekerjaan sebagai verifikasi. Hasil: biaya turun dan kualitas naik. Home

Kasus: Layanan TI (Outcome-Based Contracting)

Dalam industri TI, penerapan “outcome-based contracting” (OBC) menjanjikan manfaat bisnis nyata (seperti efisiensi biaya operasional, peningkatan uptime). Namun banyak perusahaan mengalami hambatan karena risiko lebih besar bagi penyedia dan instansi harus melepaskan kontrol proses yang tinggi. KPMG Assets

Relevansi untuk Indonesia

Misalnya: sebuah lembaga pemerintah membutuhkan layanan digital untuk mempercepat izin usaha. Daripada mengadakan “sebuah portal dengan fitur A, B, C”, lembaga bisa menetapkan outcome: “Waktu pengeluaran izin ≤ 48 jam, tingkat obrolan pelanggan ≥ 90%, jumlah pengaduan layanan ≤ 5% dalam 12 bulan”. Penyedia bebas menawarkan portal + chatbot + pelatihan + sistem integrasi ana. Model ini lebih fokus kepada manfaat dan hasil daripada fitur teknis saja.


Peningkatan Nilai Manfaat Pengadaan melalui OBP

Mengapa menerapkan OBP dapat benar-benar meningkatkan nilai manfaat pengadaan? Berikut beberapa aspek dan bagaimana OBP mendorongnya:

1. Fokus pada Manfaat yang Berarti

Dengan OBP, pengadaan diarahkan untuk menghasilkan perubahan yang bernilai: peningkatan kualitas layanan, produktivitas, efisiensi biaya, kepuasan pengguna. Ketimbang hanya membeli barang.

2. Insentif untuk Inovasi

Karena spesifikasi tidak kaku, penyedia terdorong menawarkan solusi yang lebih efisien, kreatif, atau berbasis teknologi baru—yang mungkin tidak muncul di pengadaan tradisional. bloom.services

3. Pengukuran dan Pertanggungjawaban

OBP mengharuskan ada KPI dan indikator hasil, sehingga instansi bisa mengukur apakah pengadaan “berhasil” atau tidak. Tanpa proses tersebut, pengadaan sering selesai tetapi manfaat tidak jelas.

4. Manajemen Risiko Lebih Baik

Ketika pembayaran atau bonus dihubungkan dengan hasil, risiko kegagalan dialihkan sebagian ke penyedia yang bertanggung jawab atas outcome. Instansi juga bisa memilih model risiko yang sesuai. The Government Outcomes Lab

5. Efisiensi dan Nilai Jangka Panjang

Walaupun awalnya mungkin memerlukan waktu lebih banyak untuk perencanaan dan desain, dalam jangka panjang OBP dapat menghasilkan pengadaan yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Tabel Ringkasan Nilai Manfaat OBP

Nilai Manfaat Penjelasan
Efisiensi biaya Solusi yang lebih tepat guna dan efisien dibanding model hanya spesifikasi.
Kualitas layanan/barang Fokus hasil membuat penyedia berkomitmen terhadap performa yang lebih baik.
Kepuasan pengguna Outcome seperti waktu layanan lebih cepat atau kualitas lebih tinggi membuat pengguna lebih puas.
Inovasi pasar penyedia Penyedia terdorong untuk berinovasi karena ruang desain yang lebih besar.
Transparansi dan akuntabilitas KPI dan monitoring hasil memudahkan evaluasi pengadaan.

Tantangan dan Hambatan dalam Menerapkan Outcome-Based Procurement

Meski memiliki banyak kelebihan, OBP tidak tanpa tantangan. Beberapa hambatan yang sering muncul:

a) Kurangnya kesiapan instansi

Beberapa instansi belum memiliki sistem data baseline, monitoring, atau tim pengadaan yang terbiasa dengan pendekatan outcome. hpw.qld.gov.au

b) Pasar penyedia yang belum siap

Jika pasar penyedia terbatas atau hanya terbiasa bekerja dengan spesifikasi kaku, fleksibilitas OBP tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.

c) Tantangan dalam definisi hasil dan KPI

Menentukan hasil yang tepat, terukur, tidak terlalu luas atau ambigu memerlukan waktu dan keahlian. Jika hasil terlalu umum, evaluasi menjadi sulit. The Government Outcomes Lab

d) Risiko bagi penyedia

Karena sebagian risiko outcome berada pada penyedia, mereka mungkin meminta harga lebih tinggi atau enggan ikut tender jika risiko terlalu besar tanpa jaminan.

e) Biaya transisi awal

Desain tender berbasis hasil, konsultasi pasar, mekanisme monitoring memerlukan up-front cost yang mungkin lebih tinggi dibanding pengadaan tradisional.

f) Masalah insentif negatif dan pengukuran

Jika KPI tidak tepat atau insentif tidak proporsional, bisa muncul perilaku tidak diinginkan seperti “cherry picking” (memilih perkara mudah agar hasil tercapai) atau “gaming”. The Government Outcomes Lab


Strategi Keberhasilan: Tip Praktis untuk Penerapan OBP

Untuk memastikan penerapan OBP berjalan sukses, berikut beberapa tip dan strategi yang bisa digunakan dalam bimtek dan implementasi:

  1. Mulailah dengan pilot kecil
    Uji OBP pada proyek kecil terlebih dahulu untuk mempelajari proses sebelum diterapkan skala besar.

  2. Libatkan stakeholder dari awal
    Termasuk pimpinan instansi, unit kerja pengguna, tim pengadaan, dan penyedia pasar. Keterlibatan ini penting agar outcome relevan dan stakeholder mendukung.

  3. Gunakan early market engagement
    Lakukan dialog atau sesi pasar untuk mengetahui kemampuan penyedia dan memperoleh ide-solusi alternatif. hpw.qld.gov.au+1

  4. Tetapkan outcome dan KPI secara realistis
    Gunakan data baseline dan buatlah outcome yang spesifik, terukur, waktu tercapai jelas.

  5. Rancang insentif dan penalti yang seimbang
    Jangan hanya penalti jika gagal; sisipkan bonus bagi pencapaian lebih tinggi agar penyedia termotivasi.

  6. Pantau secara berkala dan adaptif
    Gunakan dashboard, laporan rutin, dan pastikan ada mekanisme revisi jika indikator belum tercapai.

  7. Dokumentasikan pembelajaran
    Setelah selesai proyek, lakukan analisis: apa yang berhasil, apa yang tidak, bagaimana perbaikan ke depan. Gunakan pembelajaran ini ke pengadaan selanjutnya.

  8. Bangun kapabilitas tim pengadaan
    Melalui bimtek, workshop, simulasi supaya tim pengadaan memahami mindset OBP, bukan hanya teknis prosedur.


Modul-Materi Bimtek yang Direkomendasikan

Untuk penyelenggaraan bimtek tentang OBP, berikut adalah contoh modul materi yang bisa disusun:

  • Modul 1: Pengantar Outcome-Based Procurement (Konsep, Manfaat, Perbedaan)

  • Modul 2: Analisis Hasil dan Definisi Outcome/KPI

  • Modul 3: Perancangan Tender Berbasis Outcome (spesifikasi, dokumen tender, early market engagement)

  • Modul 4: Evaluasi Penyedia dan Metode Pembayaran Terkait Hasil

  • Modul 5: Manajemen Kontrak dan Monitoring Hasil

  • Modul 6: Studi Kasus dan Simulasi Implementasi OBP

  • Modul 7: Tantangan, Hambatan, Strategi Mitigasi serta Pembelajaran

Materi ini bisa dilengkapi dengan templates (contoh spesifikasi outcome-based), checklist kesiapan instansi, dan hand-out untuk peserta.


Rekomendasi Indikator dan KPI Umum untuk Outcome-Based Procurement

Berikut contoh indikator yang bisa diadaptasi menurut konteks pengadaan:

Indikator Definisi Target Contoh
Waktu penyelesaian layanan Waktu rata-rata hingga layanan selesai setelah pemohon mengajukan ≤ 48 jam
Persentase kepuasan pengguna Persentase pengguna yang memberi nilai “puas” atau “sangat puas” ≥ 90%
Tingkat gangguan atau downtime Persentase waktu layanan tidak tersedia ≤ 2% per bulan
Efisiensi biaya operasional Pengurangan biaya operasional dibanding tahun sebelumnya ≥ 10%
Inovasi atau solusi baru Jumlah atau persentase penyedia yang menawarkan solusi di luar standar ≥ 25% tender

Indikator-indikator ini perlu disesuaikan dengan konteks institusi, jenis pengadaan, dan kesiapan data yang tersedia.


Case Study Indonesia (Ilustrasi)

Misalnya: Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (Kota X) ingin meningkatkan layanan pemeliharaan jalan. Dengan pendekatan tradisional, tender dilakukan untuk “pemeliharaan rutin jalan sepanjang km” dengan spesifikasi bahan, frekuensi, dan unit kerja. Hasilnya tetap banyak keluhan pengguna tentang kualitas jalan dan kerusakan cepat.

Jika menggunakan OBP: instansi menuliskan outcome: “Kondisi jalan dinilai kategori A ≥ 90% oleh pengguna dalam 12 bulan; jumlah pengaduan kerusakan jalan ≤ 50 per tahun; biaya pemeliharaan per km harus menurun minimal 5% dibanding tahun sebelumnya.” Maka penyedia bebas menawarkan paket pemeliharaan rutin + sistem monitoring sensor jalan + aplikasi pengaduan cepat. Kontrak membayar bonus jika tingkat kategori A pengguna ≥ 90% dalam 12 bulan.

Keuntungan:

  • Penyedia terdorong mencari solusi inovatif.

  • Instansi mendapat manfaat langsung (kualitas jalan naik, keluhan turun).

  • Nilai manfaat pengadaan lebih nyata.
    Tantangan: data baseline harus tersedia, indikator harus bisa diukur, dan sistem monitoring harus dijalankan.


Integrasi OBP dalam Kebijakan & Regulasi Pengadaan Indonesia

Untuk memastikan keberhasilan OBP, perlu ada dukungan kebijakan/regulasi, antara lain:

  • Revisi pedoman pengadaan agar memasukkan opsi OBP.

  • Regulasi pembayaran berbasis hasil di dalam kontrak pengadaan publik.

  • Peningkatan transparansi data baseline dan monitoring hasil.

  • Penguatan kompetensi SDM pengadaan melalui bimtek khusus.

  • Penyediaan insentif bagi instansi yang berhasil menerapkan OBP dengan baik.

Dengan demikian, OBP bukan sekadar “tren” tetapi menjadi bagian dari transformasi pengadaan publik menuju nilai manfaat yang lebih tinggi.


Kesimpulan

Pendekatan Outcome-Based Procurement menawarkan paradigma baru dalam pengadaan: dari “membeli barang/jasa” ke “menghasilkan hasil dan manfaat”. Bimtek dan pelatihan terkait OBP sangat penting untuk memperkuat kapabilitas instansi dan memastikan pengadaan tidak hanya selesai secara administratif, tetapi memberikan nilai nyata. Dengan perencanaan yang tepat, desain spesifikasi berbasis hasil, evaluasi yang cermat, dan pemantauan yang konsisten, instansi dapat meningkatkan efisiensi, kualitas, dan inovasi dalam pengadaan.


Bimtek Terkait Dengan Bimtek Pendekatan Outcome-Based Procurement untuk Peningkatan Nilai Manfaat Pengadaan

  1. Panduan Praktis Merancang Tender Outcome-Based Procurement di Instansi Publik

  2. Studi Kasus Penerapan Outcome-Based Procurement di Sektor Infrastruktur”


FAQ (Pertanyaan Umum)

1. Apa perbedaan antara output dan outcome dalam OBP?
Output adalah barang atau jasa yang dihasilkan (misalnya: 100 unit komputer). Outcome adalah perubahan atau manfaat yang dihasilkan (misalnya: produktivitas naik 20%).
2. Apakah OBP berarti spesifikasi teknis tidak penting lagi?
Tidak benar. Spesifikasi teknis tetap diperlukan untuk aspek‐minimal, namun OBP mendorong agar fokus utama pada hasil dan memungkinkan penyedia memilih cara terbaik.
3. Bagaimana cara memilih KPI yang tepat untuk OBP?
Pilih KPI yang terukur, relevan dengan tujuan, bisa dipengaruhi oleh penyedia, memiliki baseline data, dan realistis dalam jangka waktu kontrak.
4. Apa risiko terbesar jika menerapkan OBP?
Risiko antara lain: penyedia gagal mencapai hasil, instansi kekurangan data baseline atau monitoring, pasar tidak siap, atau KPI terlalu luas/abstrak sehingga sulit diukur.
5. Apakah semua jenis pengadaan cocok untuk OBP?
Tidak. Pengadaan yang sangat teknis dengan spesifikasi tetap atau risiko kegagalan sangat tinggi mungkin kurang cocok. OBP lebih cocok untuk layanan atau barang dengan ruang inovasi dan bisa diukur hasilnya.
6. Bagaimana menyikapi biaya awal yang lebih tinggi untuk desain OBP?
Biaya awal memang mungkin lebih tinggi (untuk market engagement, desain tender, monitoring), namun manfaat jangka panjang (efisiensi, kualitas, inovasi) dapat lebih besar.
7. Apakah penyedia akan menolak ikut tender OBP?
Kemungkinan ada. Penyedia yang belum terbiasa dengan pendekatan outcome mungkin enggan karena risiko. Solusinya: lakukan komunikasi pasar, edukasi, dan desain tender yang adil bagi penyedia.


Jika Anda tertarik, saya dapat menyusun template modul bimtek lengkap atau contoh kasus lokal Indonesia untuk digunakan sebagai materi pelatihan. Silakan jika berminat.

Sumber Link: Bimtek Pendekatan Outcome-Based Procurement untuk Peningkatan Nilai Manfaat Pengadaan

author-avatar

Tentang Pusat Diklat Pemerintahan

LINKEU PEMDA merupakan lembaga penyelenggara kegiatan pendidikan, pelatihan, bimbingan teknis, in-house training dan outbound training untuk instansi pemerintahan daerah maupun instansi lainnya seperti BUMN, BUMD, maupun rumah sakit serta perseroan terbatas yang berada di lingkungan pemerintah daerah, baik provinsi, kota, maupun kabupaten.