Bimtek Diklat
Bimtek Penerapan E-Purchasing Dalam Pengadaan Obat dan Alat Kesehatan
Pengadaan obat dan alat kesehatan merupakan salah satu aktivitas strategis dan krusial dalam penyelenggaraan pelayanan publik, khususnya di sektor kesehatan. Ketersediaan obat yang tepat waktu, alat kesehatan yang sesuai standar, serta harga yang wajar menjadi faktor penentu kualitas layanan kesehatan di rumah sakit, puskesmas, dan fasilitas kesehatan lainnya. Oleh karena itu, pemerintah terus melakukan reformasi sistem pengadaan melalui pemanfaatan teknologi digital, salah satunya dengan penerapan e-purchasing melalui katalog elektronik.
Bimtek Penerapan E-Purchasing dalam Pengadaan Obat dan Alat Kesehatan hadir sebagai solusi peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar mampu memahami, mengoperasikan, dan mengoptimalkan sistem pengadaan elektronik secara akuntabel, efisien, dan sesuai regulasi. Artikel ini disusun sebagai artikel pilar yang membahas secara komprehensif konsep, regulasi, tahapan, tantangan, hingga praktik terbaik penerapan e-purchasing di sektor kesehatan.
Transformasi Digital Pengadaan Obat dan Alat Kesehatan
Transformasi digital dalam pengadaan pemerintah bukan sekadar perubahan alat, melainkan perubahan paradigma kerja. Dari sistem manual yang rentan kesalahan dan lambat, menuju sistem elektronik yang terintegrasi, transparan, dan terdokumentasi dengan baik.
Dalam konteks sektor kesehatan, digitalisasi pengadaan memiliki dampak yang sangat signifikan karena:
-
Tingginya nilai belanja obat dan alat kesehatan
-
Kompleksitas spesifikasi teknis produk
-
Sensitivitas terhadap mutu dan keamanan pasien
-
Tingginya risiko keterlambatan pasokan
E-purchasing melalui katalog elektronik memungkinkan satuan kerja kesehatan melakukan pembelian langsung dari penyedia yang telah diverifikasi, dengan harga dan spesifikasi yang telah distandarkan.
Pengertian E-Purchasing dalam Pengadaan Pemerintah
E-purchasing adalah tata cara pembelian barang/jasa pemerintah melalui sistem katalog elektronik. Dalam sistem ini, produk telah tersedia dalam katalog dengan informasi harga, spesifikasi, dan penyedia yang jelas.
Dalam pengadaan obat dan alat kesehatan, e-purchasing mencakup:
-
Obat generik dan bermerek
-
Alat kesehatan habis pakai
-
Alat kesehatan tidak habis pakai
-
Reagen laboratorium
-
Alat kesehatan penunjang layanan medis
Karakteristik utama e-purchasing antara lain:
Landasan Regulasi E-Purchasing Obat dan Alat Kesehatan
Penerapan e-purchasing tidak terlepas dari kerangka regulasi yang mengikat. Pemahaman regulasi menjadi fondasi penting dalam Bimtek agar pelaksanaan pengadaan tidak menimbulkan risiko hukum.
Beberapa regulasi utama yang menjadi dasar antara lain:
-
Peraturan Presiden tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
-
Peraturan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
-
Ketentuan penggunaan katalog elektronik nasional dan sektoral
-
Regulasi Kementerian Kesehatan terkait obat dan alat kesehatan
-
Pedoman pengadaan di lingkungan rumah sakit dan BLUD
Melalui Bimtek, peserta tidak hanya memahami bunyi regulasi, tetapi juga mampu menginterpretasikan dan menerapkannya dalam praktik sehari-hari.
Urgensi Bimtek E-Purchasing di Sektor Kesehatan
Banyak permasalahan pengadaan obat dan alat kesehatan bukan disebabkan oleh sistem, melainkan oleh keterbatasan pemahaman dan kompetensi pelaksana. Di sinilah peran strategis Bimtek.
Urgensi pelaksanaan Bimtek antara lain:
-
Meningkatkan pemahaman teknis penggunaan katalog elektronik
-
Mengurangi kesalahan administrasi dan prosedural
-
Mencegah temuan audit dan risiko hukum
-
Meningkatkan efektivitas perencanaan pengadaan
-
Menjamin ketersediaan obat dan alkes tepat waktu
Bimtek menjadi sarana pembelajaran yang menjembatani regulasi dengan praktik lapangan.
Ruang Lingkup Pengadaan Obat dan Alat Kesehatan Melalui E-Purchasing
Ruang lingkup pengadaan melalui e-purchasing di sektor kesehatan sangat luas dan terus berkembang seiring pembaruan katalog.
Secara umum mencakup:
-
Obat esensial dan non-esensial
-
Obat program pemerintah
-
Alat kesehatan diagnostik
-
Alat kesehatan terapi
-
Alat kesehatan penunjang medis
Berikut tabel ringkasan ruang lingkup e-purchasing sektor kesehatan:
| Jenis Produk | Contoh | Keterangan |
|---|---|---|
| Obat | Antibiotik, vaksin | Mengacu e-katalog obat |
| Alkes Habis Pakai | Spuit, sarung tangan | Volume tinggi |
| Alkes Tidak Habis Pakai | USG, monitor pasien | Spesifikasi teknis ketat |
| Reagen | Kimia klinik | Perlu validasi mutu |
Tahapan Penerapan E-Purchasing dalam Pengadaan Obat dan Alat Kesehatan
Pelaksanaan e-purchasing tidak berdiri sendiri, tetapi terintegrasi dalam siklus pengadaan.
Tahapan utama meliputi:
-
Perencanaan kebutuhan berbasis layanan
-
Penyusunan RUP
-
Penetapan spesifikasi teknis
-
Pemilihan produk di katalog elektronik
-
Pembuatan pesanan (e-purchasing order)
-
Konfirmasi penyedia
-
Penerimaan barang
-
Pembayaran
Dalam Bimtek, setiap tahapan dibahas secara rinci disertai simulasi penggunaan sistem.
Peran Strategis Pejabat Pengadaan dan PPK
Keberhasilan e-purchasing sangat ditentukan oleh peran aktor pengadaan, khususnya:
Tanggung jawab utama meliputi:
-
Menjamin kesesuaian spesifikasi
-
Memastikan kepatuhan regulasi
-
Mengelola risiko pengadaan
-
Mendokumentasikan seluruh proses
Bimtek membantu memperjelas batas kewenangan dan tanggung jawab masing-masing peran.
Contoh Kasus Nyata Penerapan E-Purchasing di Rumah Sakit Daerah
Sebuah rumah sakit daerah tipe B mengalami masalah keterlambatan pasokan obat karena proses tender yang panjang. Setelah beralih ke e-purchasing melalui katalog elektronik, rumah sakit tersebut berhasil:
-
Memangkas waktu pengadaan hingga 60%
-
Menurunkan selisih harga obat
-
Mengurangi kekosongan stok
-
Memperbaiki hasil audit pengadaan
Namun, pada tahap awal implementasi, terjadi kesalahan pemilihan satuan kemasan akibat kurangnya pemahaman katalog. Kesalahan ini kemudian dijadikan bahan evaluasi dan pembelajaran dalam Bimtek internal.
Kasus ini menunjukkan bahwa sistem e-purchasing sangat efektif apabila didukung oleh SDM yang kompeten.
Tantangan Penerapan E-Purchasing Obat dan Alat Kesehatan
Meskipun memberikan banyak manfaat, penerapan e-purchasing juga menghadapi tantangan.
Beberapa tantangan umum antara lain:
-
Perubahan harga dan ketersediaan produk
-
Ketidaksesuaian spesifikasi klinis
-
Keterbatasan pemahaman teknis pengguna
-
Koordinasi antar unit kerja
-
Ketergantungan pada sistem teknologi
Melalui Bimtek, peserta dibekali strategi mitigasi risiko dan solusi praktis untuk menghadapi tantangan tersebut.
Strategi Optimalisasi E-Purchasing Melalui Bimtek
Bimtek yang efektif tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif.
Strategi optimalisasi yang dibahas dalam Bimtek meliputi:
-
Analisis kebutuhan berbasis data penggunaan
-
Penyusunan spesifikasi teknis yang presisi
-
Pemanfaatan fitur katalog secara optimal
-
Penguatan koordinasi antara pengguna dan pengadaan
-
Monitoring dan evaluasi pasca pembelian
Pendekatan ini membantu satuan kerja meningkatkan nilai manfaat pengadaan.
Integrasi E-Purchasing dengan Manajemen Logistik Kesehatan
E-purchasing tidak dapat dipisahkan dari sistem logistik. Pengadaan yang cepat tetapi tanpa manajemen logistik yang baik tetap berpotensi menimbulkan pemborosan.
Integrasi mencakup:
-
Perencanaan kebutuhan berbasis stok
-
Sistem pencatatan persediaan
-
Pengendalian masa kedaluwarsa
-
Pelaporan penggunaan obat dan alkes
Bimtek membahas bagaimana e-purchasing menjadi bagian dari ekosistem manajemen logistik kesehatan yang utuh.
Dampak E-Purchasing terhadap Transparansi dan Akuntabilitas
Salah satu keunggulan utama e-purchasing adalah peningkatan transparansi. Seluruh proses terekam dalam sistem dan dapat diaudit.
Dampak positif yang dirasakan antara lain:
-
Mengurangi potensi konflik kepentingan
-
Mempermudah pemeriksaan auditor
-
Meningkatkan kepercayaan publik
-
Memperkuat tata kelola pengadaan
Hal ini sejalan dengan prinsip good governance dalam pengelolaan keuangan negara.
Peran Bimtek dalam Peningkatan Kompetensi ASN Kesehatan
ASN di sektor kesehatan dituntut untuk adaptif terhadap perubahan regulasi dan teknologi. Bimtek menjadi sarana strategis untuk:
-
Meningkatkan kompetensi teknis pengadaan
-
Memperbarui pemahaman regulasi terbaru
-
Membangun budaya kerja berbasis sistem
-
Mendorong profesionalisme ASN
Dengan kompetensi yang memadai, ASN mampu menjalankan pengadaan secara lebih efektif dan bertanggung jawab.
Masa Depan E-Purchasing Obat dan Alat Kesehatan
Ke depan, e-purchasing akan semakin terintegrasi dengan:
Bimtek berperan penting dalam mempersiapkan SDM menghadapi arah pengembangan tersebut agar tidak tertinggal oleh dinamika sistem.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu e-purchasing dalam pengadaan obat dan alat kesehatan?
E-purchasing adalah metode pembelian obat dan alat kesehatan melalui katalog elektronik dengan proses yang cepat dan transparan.
Siapa saja yang wajib mengikuti Bimtek e-purchasing?
Pejabat Pembuat Komitmen, Pejabat Pengadaan, pengelola logistik, dan ASN yang terlibat dalam pengadaan sektor kesehatan.
Apakah e-purchasing menggantikan tender sepenuhnya?
Tidak, e-purchasing digunakan untuk produk yang tersedia di katalog elektronik, sementara tender tetap digunakan untuk kebutuhan tertentu.
Apa risiko jika salah menerapkan e-purchasing?
Risiko meliputi temuan audit, kesalahan spesifikasi, keterlambatan pasokan, dan potensi kerugian keuangan.
Bagaimana Bimtek membantu mengurangi risiko tersebut?
Bimtek memberikan pemahaman regulasi, simulasi sistem, dan studi kasus nyata sebagai pembelajaran.
Apakah e-purchasing cocok untuk semua fasilitas kesehatan?
Ya, baik rumah sakit, puskesmas, maupun unit layanan kesehatan lainnya dapat memanfaatkannya sesuai kebutuhan.
Segera tingkatkan kompetensi pengadaan obat dan alat kesehatan melalui pelatihan yang terstruktur, aplikatif, dan sesuai regulasi terbaru demi layanan kesehatan yang lebih berkualitas dan akuntabel.
Judul Artikel Turunan yang Terkait
-
Kesalahan Umum dalam E-Purchasing Obat dan Cara Menghindarinya
-
Integrasi E-Purchasing dengan Manajemen Logistik Rumah Sakit
-
Dampak E-Purchasing terhadap Efisiensi Anggaran Sektor Kesehatan

Sumber Link: Bimtek Penerapan E-Purchasing Dalam Pengadaan Obat dan Alat Kesehatan