Bimtek Pemda

Strategi Implementasi Green Procurement di Pemerintah Daerah

Green procurement atau pengadaan hijau merupakan pendekatan baru dalam sistem pengadaan pemerintah yang menekankan pada aspek ramah lingkungan, efisiensi energi, dan keberlanjutan sosial-ekonomi. Penerapan konsep ini tidak hanya relevan di tingkat nasional, tetapi juga sangat penting untuk pemerintah daerah sebagai ujung tombak pelayanan publik dan pembangunan lokal.

Artikel ini akan membahas secara menyeluruh tentang strategi implementasi green procurement di pemerintah daerah, meliputi landasan hukum, manfaat, tahapan implementasi, contoh penerapan, hingga tantangan yang dihadapi.


Konsep Green Procurement dalam Pengadaan Daerah

Green procurement adalah proses pengadaan barang/jasa yang mempertimbangkan dampak lingkungan, mulai dari perencanaan kebutuhan, pemilihan penyedia, hingga pengelolaan limbah.

Di tingkat pemerintah daerah, penerapan green procurement tidak hanya membantu efisiensi anggaran, tetapi juga:

  • Mengurangi emisi karbon dari aktivitas pembangunan.

  • Mendorong UMKM lokal menghasilkan produk ramah lingkungan.

  • Meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui barang/jasa yang lebih sehat dan berkelanjutan.


Landasan Regulasi untuk Pemerintah Daerah

Penerapan green procurement memiliki dasar hukum yang kuat, di antaranya:

  • Peraturan Presiden No. 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.

  • Instruksi Presiden No. 2 Tahun 2022 tentang Percepatan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN).

  • Pedoman Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) yang mendorong Green Public Procurement (GPP).

Informasi resmi mengenai kebijakan pengadaan berkelanjutan dapat diakses di LKPP RI,  Bimtek Green Procurement: Langkah Nyata Menuju Pengadaan Pemerintah Berkelanjutan.


Mengapa Pemerintah Daerah Harus Menerapkan Green Procurement?

Implementasi green procurement di tingkat daerah akan memberikan manfaat nyata pada tiga aspek utama:

Ekonomi:

  • Menekan biaya operasional dengan penggunaan energi efisien.

  • Mengurangi pengeluaran jangka panjang meski investasi awal lebih besar.

  • Mendorong pertumbuhan ekonomi lokal berbasis ramah lingkungan.

Lingkungan:

  • Menekan polusi udara, air, dan tanah.

  • Mengurangi limbah dengan memanfaatkan produk daur ulang.

  • Mendukung pencapaian target pembangunan berkelanjutan (SDGs).

Sosial:

  • Menyediakan layanan publik yang lebih sehat dan berkualitas.

  • Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keberlanjutan.

  • Memberikan peluang usaha baru di sektor hijau.


Strategi Implementasi Green Procurement di Pemerintah Daerah

Penerapan green procurement membutuhkan strategi yang komprehensif. Berikut adalah tahapan yang dapat diambil pemerintah daerah:

1. Perencanaan Kebutuhan yang Berkelanjutan

  • Identifikasi barang/jasa yang sering digunakan dan bisa diganti dengan produk ramah lingkungan.

  • Integrasikan aspek lingkungan ke dalam Rencana Umum Pengadaan (RUP).

2. Penyusunan Dokumen Lelang yang Ramah Lingkungan

  • Memasukkan kriteria produk hijau dalam dokumen tender.

  • Mengutamakan penyedia dengan sertifikasi ramah lingkungan.

3. Penguatan Kapasitas Aparatur Daerah

  • Mengadakan pelatihan atau Bimtek Green Procurement: Langkah Nyata Menuju Pengadaan Pemerintah Berkelanjutan.

  • Membekali aparatur dengan keterampilan dalam menyusun kontrak hijau.

4. Penguatan Sistem E-Procurement

  • Mengoptimalkan e-katalog dengan filter produk ramah lingkungan.

  • Memanfaatkan sistem elektronik LKPP yang mendukung transparansi.

5. Monitoring dan Evaluasi

  • Melakukan audit lingkungan secara berkala terhadap pengadaan.

  • Mengevaluasi efisiensi biaya dan dampak lingkungan dari produk yang digunakan.


Tabel Strategi dan Dampak Green Procurement

Strategi Implementasi Dampak Positif Bagi Daerah
Integrasi dalam RUP Anggaran lebih terukur dan efisien
Dokumen tender ramah lingkungan Penyedia lebih kompetitif dengan produk hijau
Pelatihan aparatur Kapasitas SDM meningkat, risiko kesalahan berkurang
Sistem e-catalog hijau Proses transparan, pilihan produk ramah lingkungan lebih banyak
Evaluasi berkala Perbaikan berkelanjutan dan akuntabilitas pengadaan meningkat

Contoh Nyata Implementasi di Daerah

Beberapa daerah di Indonesia mulai menerapkan konsep green procurement. Salah satu contoh adalah pengadaan kendaraan listrik untuk dinas perhubungan di Jakarta.

Hasilnya:

  • Mengurangi emisi karbon dari kendaraan operasional.

  • Biaya bahan bakar berkurang signifikan.

  • Menjadi role model bagi daerah lain dalam mendukung transisi energi hijau.

Selain itu, beberapa pemerintah daerah juga mulai menggunakan kertas daur ulang dan lampu LED hemat energi dalam pengadaan kantor. Langkah kecil ini terbukti memberi dampak besar pada penghematan anggaran operasional.


Tantangan Implementasi di Pemerintah Daerah

Meskipun potensinya besar, implementasi green procurement tidak terlepas dari kendala, di antaranya:

  1. Kurangnya pengetahuan SDM – Banyak aparatur belum memahami teknis pengadaan hijau.

  2. Keterbatasan produk hijau lokal – Pasar belum menyediakan banyak pilihan.

  3. Biaya awal relatif tinggi – Investasi awal seringkali dianggap memberatkan anggaran.

  4. Resistensi penyedia – Penyedia lokal masih minim sertifikasi ramah lingkungan.


Solusi Mengatasi Tantangan

Beberapa langkah solusi yang bisa dilakukan antara lain:

  • Meningkatkan pelatihan teknis bagi aparatur daerah.

  • Memberikan insentif bagi penyedia lokal untuk menghasilkan produk hijau.

  • Memperkuat regulasi daerah agar selaras dengan kebijakan nasional.

  • Menggandeng universitas atau lembaga riset untuk mengembangkan produk ramah lingkungan lokal.


Dampak Jangka Panjang Green Procurement di Daerah

Jika diterapkan secara konsisten, strategi ini akan memberikan dampak jangka panjang, antara lain:

  • Anggaran daerah lebih efisien dan terkendali.

  • Lingkungan lebih sehat dan berkelanjutan.

  • Masyarakat mendapat manfaat langsung dari pelayanan publik yang berkualitas.

  • Pemerintah daerah berkontribusi pada pencapaian SDGs dan target nasional pengurangan emisi karbon.


FAQ tentang Green Procurement di Pemerintah Daerah

1. Apakah semua pemerintah daerah wajib menerapkan green procurement?
Ya, sesuai regulasi nasional, pemerintah daerah didorong menerapkan prinsip pengadaan berkelanjutan.

2. Apa contoh produk ramah lingkungan yang bisa diadakan oleh daerah?
Kertas daur ulang, peralatan hemat energi, kendaraan listrik, hingga bahan bangunan ramah lingkungan.

3. Apakah green procurement selalu lebih mahal?
Tidak selalu. Meski biaya awal lebih tinggi, jangka panjang lebih efisien karena hemat energi dan tahan lama.

4. Bagaimana cara aparatur daerah meningkatkan kapasitasnya?
Dengan mengikuti pelatihan atau bimtek green procurement dari lembaga terpercaya maupun program resmi LKPP.


Kesimpulan

Strategi implementasi green procurement di pemerintah daerah merupakan langkah nyata dalam mewujudkan pengadaan yang efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Melalui perencanaan yang matang, penguatan kapasitas aparatur, sistem e-procurement yang transparan, serta evaluasi berkala, pemerintah daerah dapat menjadi motor penggerak pembangunan berkelanjutan.

Green procurement bukan sekadar kebijakan, tetapi investasi jangka panjang bagi masyarakat, lingkungan, dan perekonomian daerah.


Segera ikuti bimtek green procurement untuk aparatur pemerintah daerah, wujudkan pengadaan yang efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Sumber Link:
Strategi Implementasi Green Procurement di Pemerintah Daerah

author-avatar

Tentang Pusat Diklat Pemerintahan

LINKEU PEMDA merupakan lembaga penyelenggara kegiatan pendidikan, pelatihan, bimbingan teknis, in-house training dan outbound training untuk instansi pemerintahan daerah maupun instansi lainnya seperti BUMN, BUMD, maupun rumah sakit serta perseroan terbatas yang berada di lingkungan pemerintah daerah, baik provinsi, kota, maupun kabupaten.