Bimtek Diklat
Training Penguatan Good Governance Melalui Keuangan, Aset, Dan Pengadaan Yang Transparan
Dalam era tata kelola pemerintahan dan organisasi yang semakin kompleks, penerapan prinsip-prinsip tata kelola yang baik atau good governance menjadi suatu keharusan. Training atau bimbingan teknis (bimtek) yang berfokus pada penguatan good governance melalui pengelolaan keuangan, aset, dan pengadaan yang transparan memiliki peran strategis untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, akuntabilitas, dan kepercayaan publik.
Artikel ini dirancang sebagai konten pilar yang memberi fondasi luas dan mendalam bagi organisasi publik atau privat yang ingin memperkuat tata kelola internalnya serta menjadi acuan bagi artikel-turunan yang lebih spesifik (misalnya bimtek keuangan, bimtek pengadaan, bimtek aset).
Dalam artikel ini akan dibahas: definisi dan pentingnya good governance; prinsip-prinsipnya; kaitannya dengan pengelolaan keuangan, aset dan pengadaan; tantangan dan hambatan yang sering terjadi; strategi dan praktik terbaik; contoh kasus nyata; kerangka pelatihan atau bimtek; serta bagian FAQ untuk menjawab pertanyaan umum. Dengan demikian, artikel ini tidak hanya bersifat teoritis tetapi juga aplikatif.
Memahami Good Governance: Konsep dan Relevansi
Apa itu Good Governance
Good governance dapat dipahami sebagai seperangkat proses, struktur, dan mekanisme pengambilan keputusan yang memastikan bahwa kekuasaan institusi (pemerintah, organisasi publik, maupun swasta) dijalankan secara transparan, akuntabel, partisipatif, responsif, efisien, adil, dan taat hukum.
Beberapa prinsip utama yang biasa disebut:
-
Transparansi (keterbukaan)
-
Akuntabilitas (pertanggungjawaban)
-
Responsibilitas (tanggung jawab)
-
Independensi atau independensi kelembagaan
-
Fairness atau kewajaran / keadilan
-
Kepastian hukum (rule of law)
Mengapa Good Governance Penting bagi Organisasi
Penerapan good governance bukan hanya sebatas kepatuhan regulasi, tetapi memiliki dampak strategis sebagai berikut:
-
Meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan (stakeholders) terhadap organisasi.
-
Meminimalkan risiko penyalahgunaan wewenang, korupsi, kolusi, nepotisme (KKN) dalam proses organisasi.
-
Mendorong efisiensi dan efektivitas dalam penggunaan sumber daya seperti keuangan, aset, dan pengadaan.
-
Menjadi fondasi tata kelola yang tangguh dalam menghadapi audit, pengawasan, dan tuntutan transparansi publik (termasuk di sektor pemerintahan)
-
Meningkatkan kualitas pelayanan dan output organisasi karena prosesnya lebih terstruktur dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ruang Lingkup Good Governance dalam Konteks Pengelolaan Keuangan, Aset, dan Pengadaan
Dalam konteks ini, kita akan memfokuskan pada tiga domain utama: keuangan, aset, dan pengadaan. Ketiganya saling terkait dan menjadi pilar penting bagi tata kelola organisasi yang baik. Berikut penjelasan ringkasnya:
-
Pengelolaan Keuangan: bagaimana organisasi memperoleh, menggunakan, mengendalikan, dan melaporkan dana secara akuntabel.
-
Manajemen Aset: bagaimana organisasi mengelola aset tetap dan aset tidak tetap (termasuk barang milik negara/ daerah) secara optimal dan bertanggungjawab.
-
Pengadaan (Barang/Jasa): bagaimana organisasi melakukan pengadaan barang atau jasa dengan mekanisme yang transparan, bersaing, dan akuntabel untuk mencegah penyimpangan.
Penguatan Pengelolaan Keuangan yang Transparan
Prinsip‐Prinsip Pengelolaan Keuangan yang Baik
Ketika berbicara tentang pengelolaan keuangan, organisasi perlu menjaga beberapa aspek kunci agar sesuai dengan prinsip good governance:
-
Keterbukaan informasi keuangan: seluruh alokasi, realisasi, dan penggunaan dana harus dapat diakses atau dipertanggungjawabkan.
-
Akuntabilitas: pihak yang bertanggungjawab harus menjelaskan penggunaan dana dan hasilnya.
-
Efisiensi dan efektivitas: dana yang dipergunakan harus menghasilkan outcome yang maksimal dengan sumber daya minimal.
-
Kepatuhan terhadap regulasi dan standar akuntansi: regulasi seperti Undang‑Undang Nomor 23 Tahun 2014 (Pasal 283) dan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 (Pasal 3) menetapkan kerangka pengelolaan keuangan daerah.
-
Audit dan pengawasan: proses audit internal maupun eksternal merupakan mekanisme penting untuk mutu keuangan yang baik.
Tantangan Umum dalam Pengelolaan Keuangan
Dalam praktiknya, banyak organisasi mengalami hambatan yang mengganggu pengelolaan keuangan secara baik, misalnya:
-
Sumber daya manusia (SDM) yang kompetensinya belum memadai dalam pengelolaan keuangan ataupun teknologi informasi keuangan.
-
Sistem aplikasi keuangan yang belum terintegrasi atau usang.
-
Kurangnya transparansi atau akses publik terhadap laporan keuangan.
-
Penggunaan dana yang tidak sesuai dengan perencanaan atau dokumen penganggaran.
-
Penundaan pelaporan dan audit sehingga menghambat akuntabilitas.
Bimtek Terkait Dengan Training Penguatan Good Governance melalui Keuangan, Aset, dan Pengadaan yang Transparan
-
“Implementasi e-Procurement untuk Meningkatkan Transparansi Pengadaan Barang/Jasa Publik”
-
“Strategi Pengelolaan Keuangan Daerah yang Akuntabel: Studi Kasus dan Best Practice”
-
“Manajemen Aset Milik Negara/Daerah: Langkah Praktis Menuju Efisiensi dan Akuntabilitas”
-
“Pelatihan Bimtek Good Governance: Modul Keuangan, Aset dan Pengadaan”
-
“Mengukur Indikator Tata Kelola Organisasi: Dari Transparansi ke Kepercayaan Publik”
Strategi Penguatan Keuangan untuk Good Governance
Untuk memperkuat pengelolaan keuangan dalam kerangka good governance, organisasi dapat menerapkan strategi berikut:
-
Membangun sistem keuangan yang terintegrasi dan berbasis TI – misalnya sistem e-budgeting, e-treasury, e-monitoring.
-
Meningkatkan kapasitas SDM melalui pelatihan rutin, sertifikasi internal, mentoring keuangan publik.
-
Peningkatan transparansi keuangan – publikasikan laporan keuangan secara rutin, sediakan dashboard publik, audit terbuka.
-
Penerapan audit rutin dan tindak lanjut hasil audit – rekomendasi audit harus ditindaklanjuti secara konkret.
-
Kolaborasi dengan pemangku kepentingan – melibatkan masyarakat atau media dalam pemantauan keuangan publik untuk meningkatkan akuntabilitas eksternal.
Contoh Kasus Nyata: Pengelolaan Keuangan Daerah
Sebagai contoh, dalam penelitian pada Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Mappi ditemukan bahwa penerapan prinsip good financial governance telah berjalan sesuai ketentuan regulasi: aspek transparansi dalam penyajian laporan keuangan cukup baik dan dapat diakses. Namun, faktor penghambat utama adalah kompetensi SDM dan sistem aplikasi yang belum memadai.
Dari kasus tersebut dapat diambil pelajaran bahwa fokus tidak hanya pada regulasi tetapi juga pada kesiapan internal organisasi – SDM dan teknologi.
Pengelolaan Aset yang Efisien dan Akuntabel
Mengapa Manajemen Aset Penting dalam Good Governance
Aset (baik aset tetap seperti tanah, gedung, kendaraan, maupun aset tidak tetap) merupakan bagian penting dari sumber daya organisasi. Manajemen aset yang buruk dapat menyebabkan pemborosan, kehilangan, inefisiensi atau bahkan potensi korupsi. Penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan aset pemerintah daerah memiliki peran besar dalam pembangunan lokal dan merupakan salah satu indikator kualitas tata kelola.
Dengan demikian, pengelolaan aset yang baik adalah unsur kunci dalam memperkuat good governance.
Prinsip Manajemen Aset yang Baik
Beberapa prinsip yang harus diterapkan:
-
Inventarisasi aset secara lengkap dan terkini.
-
Penilaian dan pencatatan nilai aset (akutansi aset).
-
Pemeliharaan dan pengamanan aset secara rutin (preventif dan korektif).
-
Penghapusan atau pemindahtanganan aset yang sudah tidak digunakan dengan proses yang transparan.
-
Penggunaan aset secara optimal untuk mendukung fungsi organisasi dan pelayanan publik.
-
Pelaporan dan pertanggungjawaban aset secara jelas dan dapat diakses.
Tantangan dan Hambatan dalam Praktik Manajemen Aset
-
Belum ada sistem inventaris yang menyeluruh atau terintegrasi.
-
Nilai aset masih belum tercatat secara realistis atau ada aset yang tidak diketahui keberadaannya.
-
Pemeliharaan aset yang terabaikan sehingga menimbulkan kerugian.
-
Penghapusan atau pemindahtanganan aset tidak melalui mekanisme yang transparan.
-
Kurangnya kompetensi dan kesadaran SDM untuk manajemen aset.
Strategi Penguatan Manajemen Aset
Untuk menjamin aset dikelola dengan baik, organisasi dapat melakukan:
-
Membangun database aset yang terintegrasi – mencakup seluruh aset, kondisi, nilai, lokasi, dan penggunaannya.
-
Melakukan audit aset rutin – verifikasi fisik dan pencocokan dengan data.
-
Melaksanakan program pemeliharaan dan pemanfaatan aset secara optimal – misalnya aset tidak digunakan bisa dialihfungsikan atau dilelang sesuai ketentuan.
-
Pelatihan manajemen aset bagi SDM – peningkatan kesadaran dan kemampuan teknis mengenai pencatatan, pemeliharaan dan pelaporan.
-
Menerapkan prosedur penghapusan atau pemindahtanganan yang transparan – dengan dasar regulasi, dokumentasi lengkap, dan pemantauan.
Contoh Kasus Nyata: Pengelolaan Aset Pemerintah
Pada penelitian di Kabupaten Sangihe, pengelolaan aset daerah menunjukkan bahwa manajemen aset memainkan posisi strategis dalam mendukung pembangunan daerah. Hal ini menunjukkan bahwa ketika organisasi daerah serius menerapkan sistem manajemen aset, dampaknya bisa langsung terasa dalam efektivitas pelayanan publik dan pengelolaan anggaran.
Pengadaan Barang dan Jasa yang Transparan dan Akuntabel
Konteks Pengadaan dalam Tata Kelola
Pengadaan barang /jasa merupakan salah satu domain yang rawan penyimpangan dan KKN. Karena pengadaan menyangkut alokasi dana publik, pemilihan vendor, kontrak, dan pengawasan, maka penerapan good governance dalam pengadaan menjadi sangat penting. Penelitian menunjukkan bahwa tata kelola pemerintah yang baik sangat terkait dengan proses pengadaan yang sesuai prinsip transparansi, akuntabilitas dan fairness.
Prinsip Pengadaan Barang/Jasa yang Baik
Beberapa prinsip penting yang harus diterapkan dalam pengadaan:
-
Perencanaan kebutuhan yang jelas dan berdasarkan analisis kebutuhan.
-
Pelaksanaan lelang atau tender yang terbuka dan kompetitif.
-
Transparansi informasi pengadaan (paket pekerjaan, kualifikasi, jadwal, hasil).
-
Akuntabilitas dalam manajemen kontrak dan pelaksanaan.
-
Kepatuhan terhadap regulasi dan standar pengadaan yang berlaku.
-
Pengawasan dan evaluasi setelah pelaksanaan.
Hambatan Umum dalam Pengadaan Publik
-
Perencanaan kurang matang sehingga terjadi perubahan kebutuhan secara mendadak.
-
Kurangnya transparansi atau akses publik terhadap proses pengadaan.
-
Intervensi atau konflik kepentingan antara panitia pengadaan dan penyedia.
-
Sistem pengadaan yang belum berbasis teknologi atau data terbuka.
-
Kurangnya kapasitas panitia pengadaan atau SDM vendor.
Strategi Penguatan Pengadaan untuk Good Governance
Organisasi dapat memperkuat proses pengadaan melalui:
-
Implementasi e-procurement atau sistem pengadaan elektronik – mengurangi interaksi langsung dan meningkatkan transparansi.
-
Standarisasi proses pengadaan – dokumen persyaratan, kualifikasi, kriteria evaluasi harus jelas dan konsisten.
-
Pelatihan dan sertifikasi panitia pengadaan – untuk meningkatkan kompetensi dalam mengelola pengadaan publik.
-
Pemantauan dan audit pengadaan – penyediaan sistem pengaduan, daftar hitam penyedia yang melanggar, audit kontrak.
-
Pengungkapan informasi pengadaan secara terbuka – publikasi paket, pemenang, kontrak, realisasi pekerjaan.
Contoh Kasus Nyata: Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Dalam studi kasus di Dinas Kesehatan Kabupaten Labuhanbatu Utara penelitian menunjukkan bahwa tahapan pengadaan meliputi perencanaan, pemilihan, manajemen kontrak, hingga serah terima dan bahwa penerapan prinsip-asas umum pemerintahan yang baik (termasuk keterbukaan) itu penting dalam pengadaan barang/jasa pemerintah.
Misalnya, tahap pengumuman rencana umum pengadaan melalui portal LPSE dan ruang bagi publik untuk mengakses informasi menunjukkan komitmen terhadap transparansi. Namun, masih ditemukan hambatan seperti keterlambatan pengiriman barang dan kondisi kontrak yang belum sempurna.
Hubungan Sinergis antara Keuangan, Aset dan Pengadaan dalam Good Governance
Penguatan good governance tidak bisa dilakukan hanya satu domain saja secara terpisah. Keuangan, aset, dan pengadaan saling terkait secara erat. Sebagai contoh:
-
Pengadaan barang/jasa membutuhkan alokasi dan realisasi keuangan yang akurat dan terkontrol.
-
Barang /jasa yang dibeli kemudian menjadi aset organisasi, sehingga manajemen aset harus diterapkan.
-
Pelaporan keuangan harus mencakup nilai dan kondisi aset dan beban pengadaan, serta kontrak pengadaan.
-
Jika pengadaan dilakukan secara tidak transparan, maka keuangan bisa bocor dan aset bisa hilang atau tidak optimal.
-
Sistem yang terintegrasi dari perencanaan keuangan → pengadaan → aset → pelaporan akan menciptakan siklus tata kelola yang kuat.
Untuk menggambarkan ini, berikut tabel ringkas:
| Domain | Fokus utama | Keterkaitan dengan domain lain |
|---|---|---|
| Keuangan | Anggaran, realisasi, laporan keuangan | Menyediakan dana untuk pengadaan dan aset |
| Pengadaan | Perencanaan, pelaksanaan, kontrak, evaluasi | Menggunakan dana dan menghasilkan aset/jasa |
| Aset | Inventaris, pemeliharaan, penghapusan | Hasil pengadaan, memengaruhi laporan keuangan |
Dengan integrasi yang optimal, organisasi akan memperoleh manfaat lebih besar: misalnya penghematan biaya, peningkatan efisiensi, peningkatan kepercayaan publik, serta berkurangnya risiko penyalahgunaan.
Kerangka Training / Bimbingan Teknis Penguatan Good Governance
Untuk menyelenggarakan training atau bimtek yang efektif dalam topik ini, berikut adalah kerangka materi yang dapat dijadikan acuan:
Modul 1: Landasan Good Governance
-
Definisi dan prinsip good governance
-
Relevansi bagi organisasi publik dan privat
-
Hubungan good governance dengan transparansi, akuntabilitas, keadilan, efisiensi
-
Studi kasus nasional/internasional
Modul 2: Pengelolaan Keuangan yang Transparan
-
Regulasi pengelolaan keuangan (misalnya UU, PP)
-
Sistem dan aplikasi keuangan modern (e-budgeting, e-treasury)
-
Laporan keuangan dan audit
-
Tantangan dan praktik terbaik
-
Workshop: simulasi penyusunan anggaran dan pelaporan
Modul 3: Manajemen Aset sebagai Pilar Tata Kelola
-
Inventarisasi dan penilaian aset
-
Pemeliharaan, pemanfaatan, penghapusan aset
-
Sistem database aset terintegrasi
-
Pengukuran kinerja dan laporan aset
-
Studi kasus: aset pemerintah daerah / organisasi non-pemerintah
Modul 4: Pengadaan Barang/Jasa yang Transparan
-
Kerangka regulasi pengadaan (misalnya Perpres PBJ)
-
Tahapan pengadaan: perencanaan, pemilihan, pelaksanaan, manajemen kontrak, serah terima
-
e-procurement dan mekanisme transparansi
-
Audit pengadaan dan mekanisme pengaduan
-
Praktik terbaik & studi kasus
Modul 5: Integrasi dan Implementasi Sistem Tata Kelola
-
Membangun sistem terpadu: keuangan, pengadaan, aset
-
Audit internal dan governance monitoring
-
Indikator kinerja tata kelola (Governance KPIs)
-
Roadmap implementasi di organisasi
-
Simulasi atau role-play: pengelolaan proyek pengadaan hingga pelaporan aset
Modul 6: Evaluasi, Tindak Lanjut dan Continuous Improvement
-
Evaluasi hasil training
-
Mekanisme tindak lanjut: monitoring, mentoring, peer review
-
Pengembangan budaya organisasi yang mendukung good governance
-
Continuous improvement: benchmarking, audit eksternal, feedback stakeholders
Strategi Penerapan dan Perubahan Budaya Organisasi
Melaksanakan training saja tidak cukup jika tidak diikuti dengan perubahan budaya organisasi. Berikut strategi yang dapat diterapkan:
-
Komitmen pimpinan: Kepemimpinan yang menunjukkan teladan dalam transparansi, akuntabilitas dan kepatuhan sangat penting.
-
Peningkatan kompetensi SDM secara kontinu: Pelatihan, sertifikasi, pengembangan karier yang terkait kompetensi tata kelola.
-
Penguatan sistem teknologi informasi: Sistem keuangan, pengadaan, dan aset yang terintegrasi memudahkan pengendalian dan pelaporan.
-
Penerapan reward & sanksi: Memberikan penghargaan bagi unit kerja yang menjalankan tata kelola dengan baik; menerapkan sanksi bagi pelanggaran.
-
Melibatkan pemangku kepentingan eksternal: Masyarakat, media, pihak auditor eksternal bisa menjadi pengawas tambahan yang meningkatkan transparansi.
-
Pemantauan dan evaluasi rutin: Audit internal, pengukuran indikator tata kelola, benchmarking dengan institusi lain.
Membuat Indikator Kinerja dan Monitoring Tata Kelola
Untuk memastikan bahwa pelaksanaan good governance berjalan sesuai target, organisasi dapat menetapkan indikator-kinerja berikut (Governance KPIs):
-
Persentase realisasi anggaran terhadap rencana yang dilaporkan tepat waktu
-
Persentase aset yang telah didata dalam sistem inventaris terintegrasi
-
Persentase paket pengadaan yang diumumkan secara terbuka dan didokumentasikan
-
Jumlah audit internal/eksternal yang selesai dan tindak lanjut yang telah dilakukan
-
Tingkat kepuasan pemangku kepentingan terhadap transparansi organisasi
-
Jumlah temuan penyimpangan (misalnya pengadaan, aset) dan tingkat penyelesaiannya
Monitoring dan evaluasi dilakukan secara rutin (misalnya triwulan atau semester) dan hasilnya dilaporkan ke pimpinan serta dipublikasikan jika relevan.
Contoh Kasus Terapan Lengkap
Kasus A: Pemerintah Daerah
Misalkan sebuah pemerintah daerah melaksanakan program pengadaan bangunan gedung sekolah. Proses yang ideal:
-
Perencanaan anggaran di awal tahun (keuangan) dengan alokasi yang jelas untuk bangunan.
-
Paket pengadaan diumumkan secara terbuka melalui e-procurement.
-
Penilaian dan pemilihan penyedia dilakukan secara transparan, direkam digital.
-
Kontrak ditandatangani, pekerjaan dilaksanakan, dan aset berupa gedung dicatat dalam sistem inventaris.
-
Laporan realisasi pengadaan masuk dalam laporan keuangan publik, aset gedung masuk ke laporan aset.
-
Audit pelaksanaan pengadaan dan pemanfaatan gedung dilakukan, publikasi hasil audit tersedia.
Jika salah satu link ini lemah (misalnya pengumuman tidak terbuka, atau aset tidak dicatat), maka risiko penyalahgunaan anggaran atau aset akan meningkat.
Kasus B: Organisasi Swasta / Nirlaba
Sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) menerima hibah dari donor untuk pengadaan komputer dan meja kerja. Maka:
-
Pengelolaan keuangan hibah harus transparan: dana masuk, realisasi pembelian, laporan keuangan.
-
Pengadaan barang (komputer/meja) harus melalui proses seleksi atau setidak-nya dokumentasi pembelian yang wajar dan dapat dipertanggungjawabkan.
-
Setelah pembelian, aset (komputer, meja) harus dicatat, diberi label, dan ada pemeliharaan rutin.
-
Laporan ke donor dan publik harus mencakup penggunaan dana, status aset, dan pelaporan hasil (output/h outcome).
Dengan demikian, meskipun bukan entitas pemerintah, prinsip good governance tetap relevan dan dapat meningkatkan kredibilitas di mata donor dan publik.
Manfaat Pelatihan Bimtek bagi Organisasi
Setelah mengikuti training penguatan good governance melalui keuangan, aset, dan pengadaan, organisasi akan mendapatkan manfaat berikut:
-
Peningkatan kapasitas internal dalam menerapkan tata kelola yang baik.
-
Sistem pengelolaan yang lebih terstruktur dan terdokumentasi dengan baik.
-
Penurunan risiko kerugian keuangan, aset, maupun reputasi akibat penyimpangan.
-
Peningkatan kepercayaan publik, pemangku kepentingan, dan mitra.
-
Kemampuan organisasi untuk memenuhi persyaratan audit, pelaporan dan regulasi dengan lebih baik.
-
Budaya organisasi yang lebih transparan, akuntabel dan responsif terhadap perubahan.
Rangkuman dan Kesimpulan
Melalui artikel ini kita telah melihat bahwa penguatan good governance melalui pengelolaan keuangan, aset, dan pengadaan yang transparan adalah fondasi penting bagi organisasi yang ingin maju dan terpercaya. Tidak cukup hanya memahami konsep; organisasi perlu membangun sistem, kapasitas SDM, proses yang jelas, dan budaya yang mendukung.
Ketiga domain—keuangan, aset, dan pengadaan—salig berkaitan dan perlu dikelola secara terintegrasi agar manfaatnya maksimal. Training atau bimtek dengan kerangka yang sistematis dapat menjadi langkah strategis untuk memperkuat tata kelola organisasi.
Pada akhirnya, organisasi yang menerapkan good governance tidak hanya akan menaati regulasi, tetapi juga akan memperoleh keunggulan kompetitif dalam hal efisiensi, keandalan, dan kepercayaan publik.
Mari bergabung dalam pelatihan untuk menguatkan tata kelola organisasi Anda dan mulai implementasi langkah-nyata hari ini.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Apa perbedaan antara good governance dan governance biasa?
Good governance menekankan aspek tata kelola yang baik: transparansi, akuntabilitas, keadilan, efisiensi dan kepatuhan hukum. Sedangkan governance biasa bisa lebih generik, tanpa penekanan eksplisit pada prinsip-prinsip tersebut.
2. Organisasi kecil/aparat daerah boleh ikut training ini?
Ya. Prinsip good governance berlaku pada semua ukuran organisasi, baik kecil, menengah maupun besar. Training dapat disesuaikan skala dan kebutuhan organisasi.
3. Berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga terlihat hasil setelah training?
Hasil awal bisa terlihat dalam jangka 3-6 bulan melalui perubahan proses dan pelaporan. Namun transformasi budaya organisasi bisa memakan waktu 12 bulan atau lebih.
4. Apakah teknologi informasi wajib digunakan?
Tidak selalu wajib, tetapi penggunaan teknologi (e-budgeting, e-procurement, sistem inventaris aset) sangat membantu dalam memastikan transparansi dan akuntabilitas. Jika belum tersedia, training akan membantu persiapan menuju digitalisasi.
5. Bagaimana jika organisasi sudah mempunyai regulasi internal tetapi tetap muncul penyimpangan?
Penyimpangan bisa muncul karena budaya organisasi, kompetensi SDM, atau pengawasan yang lemah. Maka selain regulasi, diperlukan pelatihan, audit, monitoring, dan sanksi/ reward yang efektif.
6. Apakah training ini hanya untuk sektor pemerintah?
Tidak. Meskipun banyak studi berasal dari sektor publik, organisasi swasta dan nirlaba pun dapat memperoleh manfaat besar dari penguatan good governance melalui keuangan, aset, dan pengadaan.
7. Bagaimana cara mengukur keberhasilan implementasi setelah training?
Anda bisa menggunakan indikator kinerja seperti: perolehan audit tepat waktu, jumlah aset yang terdokumentasi, persentase paket pengadaan yang diumumkan terbuka, pengurangan temuan penyimpangan, dan tingkat kepuasan pemangku kepentingan.
Sekarang waktunya untuk mengambil langkah konkret: daftarkan tim Anda, sediakan anggaran pelatihan, dan mulai implementasi tata kelola yang kuat dan transparan.
Sumber Link: Training Penguatan Good Governance Melalui Keuangan, Aset, Dan Pengadaan Yang Transparan